Akhir-akhir ini linimasa ramai soal kabar Direktur Mie Gacoan Bali yang ditetapkan sebagai tersangka gara-gara muter lagu tanpa izin. Lucunya, ini bukan soal musik aneh-aneh cuma playlist biasa yang sering kita dengar di kafe, resto, atau ruang tunggu. Tapi ya… ternyata itu bisa bikin kena pasal juga.

Kasus ini jadi pengingat keras bahwa penggunaan karya orang lain walau cuma diputar sebagai hiburan tetap punya aturan mainnya.

Buat pelaku industri audio visual (AV), kejadian ini bikin kita garuk-garuk kepala. Bukan cuma karena “kok bisa ya kejadian kayak gini?” tapi karena… rasanya familiar banget. Kayak déjà vu, cuma beda bentuk.

Hiburan Boleh, Tapi Hak Cipta Tetap Hak Cipta

Kita semua suka suasana nyaman di coffee shop: musik mengalun pelan, pencahayaan hangat, layar mainin ambience video, dan sound system-nya jernih. Tapi sadarkah kita, semua itu enggak jatuh dari langit?

Di kasus Gacoan, LMK (Lembaga Manajemen Kolektif) sudah mengirimkan peringatan sejak 2022. Tapi karena dianggap sepele atau mungkin belum paham risikonya, surat itu enggak ditanggapi. Akhirnya? Jerat hukum jalan. Mungkin bukan yang pertama, tapi semoga bisa jadi titik balik—karena ini bukan sekadar soal “muter lagu doang”.

Ini soal menghargai hasil karya.
Audio yang diputar? Harus berlisensi.
Desain sistem yang dipakai? Ada yang mikirin.
Instalasi speakernya? Bukan sulap, bro ada teknisi yang bolak-balik ukur, pasang, dan tuning.

Jadi sebelum kita bilang, “Ah cuma lagu doang,” coba lihat lebih luas: hiburan itu rangkaian kerja keras, dan semua orang di rantai itu berhak atas pengakuan dan kompensasi.

Dari Musik ke Sistem AV: Sama-Sama Karya, Sama-Sama Punya Nilai

Home Recording (kisscc0.com)

Nah, ini mulai masuk ke ranah kita.

Di dunia AV atau lebih spesifik SI (System Integrator), ada fenomena yang gak kalah ngeselinnya: desain gratisan.
Dan, percaya atau nggak, ini kejadian hampir di semua level dari proyek kafe kecil sampai ruang meeting di perusahaan besar.

Ceritanya familiar banget:

Vendor System Integrator diminta bantuin bikin desain sistem. Katanya buat perencanaan awal.

Dibuatlah gambar kerja yang rapi: speaker layout, flow control logic, topologi jaringan, plus rekomendasi perangkat yang sesuai.

Kadang dibikinin juga proposal teknis, bahkan BoM (Bill of Material) detail buat budgeting.

Setelah semua dikirim?
“Terima kasih, ya! Kami pertimbangkan dulu…”

Lalu desainnya diam-diam dilempar ke vendor lain, disuruh nyari harga termurah, dan vendor awal? Gigit jari.

Padahal, proses desain itu juga hasil karya. Sama seperti composer bikin lagu, desainer sistem AV juga pakai waktu, ilmu, dan pengalaman buat bikin solusi yang efektif dan aman.

Tapi sayangnya, karena belum ada perlindungan hukum yang tegas atau karena belum semua pihak paham nilainya, desain AV masih dianggap “bisa diminta gratisan”.

Ironisnya, sistem yang dibuat dari desain bajakan itu sering juga gagal total di lapangan karena yang masang nggak paham konteks desainnya.

Masalahnya Di Mana?

Di dunia AV, desain bukan sekadar sketsa kabel dan titik speaker. Itu hasil dari riset kebutuhan, kalkulasi akustik, penguasaan protokol antar perangkat, serta pengalaman lapangan yang gak bisa dipelajari cuma dari brosur.

Bahkan sering kali, desain itu juga mempertimbangkan keterbatasan site, sistem eksisting, kebutuhan user, sampai rencana ekspansi ke depan.

Dan ketika desain itu diambil begitu saja tanpa izin lalu dieksekusi oleh pihak lain yang cuma ngejar harga termurah hasilnya sering amburadul.

Sistem gak stabil, fitur gak jalan, komponen gak kompatibel, bahkan bisa berujung ke proyek gagal fungsi. Dan yang lebih menyakitkan?
Yang disalahkan tetap si perancang awal.

Karena si user taunya “kan ini pakai desain dari vendor A, kok hasilnya begini?”. Padahal yang masang vendor B, dengan komponen seadanya, tanpa paham konteks desain.

Ini mirip banget sama kasus musik:
Banyak orang masih berpikir, “Lagu doang ini mah, tinggal puter.”
Padahal di balik satu trek musik ada komposer, produser, label, pemilik lisensi, dan proses hukum yang harus dihargai. Diputar tanpa izin? Sama aja mencuri.

Nah, di AV juga begitu.

Mengambil desain tanpa izin, lalu mengubahnya seenaknya? Itu tetap bentuk pelanggaran hak cipta meskipun belum banyak yang menyorotnya. Masalahnya, kita masih hidup di kultur “gratisan” yang belum sepenuhnya menghargai proses intelektual dan teknis secara layak.

Catatan Buat Para System Integrator (SI) Serta Partner dari Bidang Lain

Project Planning (depositphotos.com)

Realitanya, gak semua klien langsung paham bahwa desain teknis adalah bagian dari jasa profesional. Apalagi di pasar yang masih banyak main harga, kebiasaan “minta desain dulu, belinya belakangan (atau ke tempat lain)” masih sering kejadian. Tapi bukan berarti kita gak bisa ngelindungin karya kita.

Berikut beberapa hal yang bisa dicoba tentu aja, gunakan kalau konteksnya memungkinkan:

  • Bikin NDA (Non-Disclosure Agreement)
    Memang kedengarannya kaku dan “berat di depan”, tapi untuk proyek besar atau klien korporat, NDA bisa jadi langkah awal buat ngasih sinyal bahwa desain lo bukan barang gratisan.
    Kalau takut klien kabur? Ya wajar. Jadi lihat-lihat dulu kondisi dan relasi yang dibangun.
  • Pakai watermark dan disclaimer
    Simple tapi efektif. Kasih keterangan jelas di gambar layout, flowchart, atau RAB bahwa desain belum final dan tidak boleh digunakan tanpa persetujuan tertulis. Minimal, lo punya bukti kalau suatu saat desain lo bocor ke vendor lain.
  • Batasi revisi proposal gratis
    Jangan langsung kasih semua data teknis. Kalau desain udah mulai masuk ke detail engineering, pertimbangkan buat ubah ke sesi konsultasi berbayar.
  • Jangan ragu edukasi klien
    Pelan pelan, ajak mereka paham kalau desain sistem itu bukan bonus sales, tapi bagian dari nilai tambah jasa lo sebagai integrator. Ini bukan jualan barang doang.

Dan buat lo para vendor kecil atau freelance SI kami tahu rasanya. Kadang nahan marah karena kerja keras lo dibajak vendor lain cuma demi selisih harga. Tapi percayalah, menjaga integritas lebih panjang umurnya daripada ngejar proyek satuan.

Catatan Buat Klien & User

Client Business Meeting (istockphoto.com)

Kalau lo memang belum siap beli perangkat tapi mau mulai dari desain yang serius, jangan dulu panggil vendor.
Kenapa? Karena vendor System Integrator (AV, IT atau ME) umumnya akan berharap lo beli dari mereka. Itu wajar mereka hidup dari barang dan jasa instalasinya.

Kalau niat lo emang mau riset dulu, bandingin brand, atau minta second opinion teknis: panggil aja konsultan AV atau IT.

Konsultan itu memang kerjaannya bikin desain, spesifikasi teknis, dan proof of concept. Mereka dibayar untuk berpikir, bukan menjual perangkat. Jadi gak ada drama “kok desain gue dipakai vendor lain”.
Lo dapat desain independen, dan vendor juga jadi lebih tenang karena sistemnya sudah ditentukan dari awal. Intinya?
Hargai proses berpikir. Baik itu dari seniman, teknisi, programmer, atau desainer sistem semua butuh waktu, pengalaman, dan pengetahuan buat bisa kasih solusi yang pas.

Desain Bukan Cuma Coretan

Architecture drawing (architizer.com)

Di AV Camp, kita percaya: setiap karya itu punya nilai. Mau itu lagu yang diputar di café, layout speaker untuk ruang ibadah, sampai flowchart sistem video conference di ruang rapat direksi semuanya lahir dari proses panjang. Ada riset, pengalaman, trial & error, serta jam terbang yang gak bisa dibikin dalam semalam.

Masalahnya?
Desain apalagi yang berbau teknis sering dianggap enteng.
“Ah, kan cuma gambar.”
“Cuma simulasi kok.”
“Cuma PDF, tinggal download doang.”

Padahal, di balik “cuma” itu ada tenaga profesional yang ngabisin waktu buat mikirin gimana sistemnya nyambung, suara tersebar merata, sinyal gak delay, dan perangkat gak bentrok protokol.

Kalau kita mau industri AV/IT/ME ini makin sehat, kuncinya ada di budaya menghargai.
Hargai ide, hargai proses, hargai orang yang berpikir keras supaya sistem lo bisa jalan lancar. Dan kalau gak mulai dari sekarang, bisa aja lo tanpa sadar ikut ngelanggengkan budaya comot desain seenaknya. Jangan sampai kita semua jadi “Gacoan berikutnya”.

Referensi artikel :

Detik

Tempo

smartlegal.id

,

Satu tanggapan untuk “Kasus Musik Mie Gacoan dan Refleksi Dunia AV: Dari Hak Cipta Lagu ke “Desain Gratisan””

  1. Rezz Avatar
    Rezz

    Nah bener banget ini, kadang ada aja orang dateng2 langsung bilang pak minta buatin spek untuk ruangan sekian x sekian pengen ruangan yang seperti ini itu. Setelah di buat, di berikan skema diagramnya, list barangnya. Tiba-tiba menghilang, selang 1 minggu kemudian, tiba2 itu skema diagram muncul di vendor lain. Ini sih bener2 kelewatan banget ga ngehargainnya.

    Suka

Tinggalkan komentar