Di era teknologi yang serba terhubung, kolaborasi antar brand AV bukan lagi pilihan tapi kebutuhan.
Pada 16 Juli 2025, Jakarta menjadi saksi salah satu perhelatan penting di dunia audio visual profesional: Sennheiser Partner Alliance Showcase. Acara ini bukan sekadar pameran teknologi, melainkan sebuah pernyataan strategis: masa depan AV dibangun lewat kolaborasi, bukan kompetisi.
Bertempat di The Westin Jakarta yang hangat dan interaktif, acara ini mempertemukan para pelaku utama industri AV dalam satu ruang yang cair dan kolaboratif. Para peserta tidak hanya datang untuk melihat produk, tetapi juga untuk berdiskusi, berbagi insight, dan menyaksikan langsung bagaimana sistem-sistem dari berbagai brand dapat berinteraksi secara nyata dan fungsional.

Bintang utamanya tentu saja Sennheiser, namun sorotan tak hanya jatuh pada satu nama. Yang membuat acara ini benar-benar spesial adalah kehadiran para mitra strategis seperti Xilica, Maxhub, Lumens, Crestron, dan Netgear semuanya hadir dengan pendekatan yang sama: mendukung interoperabilitas dan ekosistem terbuka. Melalui serangkaian demo lintas platform, para pengunjung dapat melihat langsung bagaimana teknologi dari berbagai brand saling terhubung untuk membentuk solusi AV yang lengkap dan mudah diterapkan di dunia nyata.
Di balik semarak showcase, terdapat satu momen penting yang sekaligus menjadi tonggak baru strategi distribusi Sennheiser di Indonesia: penandatanganan resmi kemitraan dengan Midwich. Langkah ini menunjukkan komitmen Sennheiser untuk memperkuat jangkauan pasar, mempercepat distribusi, dan meningkatkan kualitas layanan lokal bagi partner dan pelanggan.
Dengan pendekatan ini, Sennheiser ingin menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar produsen mikrofon premium tetapi juga pemain kunci dalam membentuk ekosistem AV yang modern, terbuka, dan berkelanjutan.
Kolaborasi sebagai DNA Baru Industri Audio Visual
Dalam dunia yang semakin mengarah ke integrasi dan interoperabilitas, satu brand tidak bisa berdiri sendiri. Dan Sennheiser tampaknya sangat memahami itu.
“Kami ingin menunjukkan bahwa solusi Sennheiser bukanlah produk yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem yang kuat dan fleksibel,”
ungkap Wiro Hamjen, Country Sales Manager Sennheiser Indonesia.
Acara ini menjadi panggung untuk menunjukkan bagaimana sistem AV modern bukan sekadar soal memilih alat terbaik, tapi bagaimana alat-alat itu saling bicara dan bekerja sama mulai dari mikrofon hingga kamera, Audio DSP hingga control system, semuanya terhubung dalam satu arsitektur sistem.
Sennheiser, dengan kekuatannya di lini audio, membuka diri untuk integrasi yang lebih dalam dengan partner strategis. Dari Crestron (yang kuat di control system), Xilica (untuk Audio DSP), Netgear (infrastruktur jaringan), hingga Lumens dan Maxhub (untuk visual dan UC device), setiap brand menunjukkan bagaimana solusi mereka saling melengkapi bukan menyaingi.
Midwich x Sennheiser: Distribusi Bukan Sekadar Supply Barang

Salah satu highlight acara adalah pengumuman resmi kemitraan distribusi antara Sennheiser dan Midwich. Bagi banyak orang, mungkin ini hanya soal penambahan channel baru. Tapi jika dilihat lebih dalam, ini adalah langkah strategis yang bisa memperkuat rantai nilai dari hulu ke hilir.
“Midwich punya pemahaman mendalam tentang pasar dan pengalaman panjang dalam solusi AV profesional. Mereka bukan sekadar distributor, tapi partner yang aktif dalam edukasi dan support ke ekosistem,”
jelas Wiro.
Di tengah pasar yang sering didominasi oleh model penjualan konvensional, kolaborasi ini membuka peluang baru: dari pelatihan, konsultasi teknis, hingga ketersediaan barang yang lebih andal dan respons support yang cepat. Bagi integrator dan reseller, ini tentu kabar baik. Bagi end-user, ini menjanjikan pengalaman yang lebih stabil dan terjamin.
Interoperabilitas: Bukan Sekadar Trend, Tapi Kebutuhan
Satu hal yang jelas dalam acara ini: sistem yang terintegrasi sudah bukan lagi impian, tapi kebutuhan. End-user kini tak lagi ingin solusi yang terkotak-kotak. Mereka ingin pengalaman sistem yang seamless, hemat waktu, dan bisa langsung jalan.

“Kami percaya interoperabilitas dan integrasi antar brand adalah kunci pengalaman pengguna yang optimal,”
tambah Wiro.
Dalam demo langsung, pengunjung bisa melihat betapa lancarnya interaksi antara mikrofon Sennheiser, Audio DSP dari Xilica, kontrol Crestron, dan jaringan Netgear semua disajikan dalam sebuah skenario ruang meeting yang bisa diterapkan langsung.
Yang menarik, semua sistem itu tidak dikunci dalam satu brand. Ini adalah bukti bahwa ekosistem terbuka, bukan vendor lock-in, adalah masa depan AV & IT.
Apa manfaat dari ekosistem seperti ini?
Jawabannya sangat praktis…
Bagi System Integrator, ini berarti lebih sedikit trial and error, karena sistem yang dipasang sudah teruji antar brand. Dokumentasi jelas, API (Application Programming Interface) tersedia, dukungan teknis bisa lintas tim. Hasilnya? Proyek lebih cepat, error lebih minim, dan waktu implementasi bisa dipersingkat.
Bagi end-user, mereka tidak harus repot belajar tiap platform. Semua sistem bekerja dalam satu workflow dari pencahayaan, suara, hingga video conference. Kalau ada masalah? Dukungan bisa datang dari partner yang mengerti keseluruhan sistem, bukan cuma satu bagian kecilnya.
Acara ini juga menjadi benchmark baru dalam cara brand menyampaikan nilai produknya. Bukan sekadar pameran statis, melainkan pengalaman langsung.
Booth-booth interaktif, sesi diskusi yang terbuka, dan interaksi langsung dengan engineer dan sales dari masing-masing brand membuat acara ini hidup dan bermakna. Di sela acara, banyak terjadi diskusi teknis, peluang proyek, bahkan potensi kolaborasi antar integrator.
Sennheiser bukan hanya menunjukkan teknologinya, tapi juga nilai filosofi barunya: “kalau mau maju, ya bareng-bareng.”
Audio Visual Adalah Ekosistem
Acara ini menjadi refleksi bahwa dunia AV sudah berubah. Ini bukan lagi soal jualan barang, tapi soal membangun sistem.
Dan sistem yang bagus tidak lahir dari satu merek saja, tapi dari kolaborasi antara banyak pihak yang tahu peran dan batasannya.
Principal, distributor, dealer, SI, dan konsultan semua saling mengisi.

“Kalau semua partner jalan di relnya, integrator fokus bangun sistem, end-user fokus pakai, dan brand fokus inovasi semua untung.”











Tinggalkan komentar